10 Mitos saat Hamil Ini Bikin Bumil Parno!

Beberapa mitos yang dilarang saat hamil mungkin ada benarnya. Namun, banyak juga mitos kehamilan yang seharusnya tak perlu dikhawatirkan. Beberapa bahkan mungkin belum pernah Anda dengar lho, bun.

mitos yang dilarang saat hamil

BEBAN perempuan ketika mengandung sebenarnya sudah cukup berat, mulai dari memikirkan kesehatannya, janinnya, urusan rumah tangga, dan masih banyak lagi. Oleh karenanya, bumil sebaiknya tidak lagi terlalu membebani diri sendiri dengan berbagai mitos kehamilan berikut ini.

Mitos 1: Berbaring telungkup dapat menekan dan membahayakan janin.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, mitos yang dilarang saat hamil satu ini ada benarnya juga. Akan tetapi sewaktu tidur, siapa sih yang sadar jika tiba-tiba posisi tubuhnya berubah dari menyamping menjadi telungkup. Lantas benarkah posisi ini berbahaya?

Faktanya, bumil tak perlu terlalu cemas karena tubuh sudah meluangkan ruang yang cukup besar untuk janin di dalam sana. Lagipula kalau kandungan sudah cukup besar, bumil juga sulit bergerak ketika tidur. Jadi kemungkinan berubah posisi ketika terlelap sangatlah kecil.

Selain itu, menurut dokter kandungan dari New York, Ashley Roman, MD, “bumil yang usia kandungannya tergolong awal masih aman tidur dalam posisi telungkup. Nanti begitu fundus perut bertambah, biasanya sudah tak nyaman (memungkinkan) lagi untuk berbaring lama dalam posisi tersebut. Jadi secara alamiah, tubuh akan mengubah posisinya sendiri ketika tidur sehingga takkan membahayakan bayi.”

Mitos 2: Bukan hanya perut saja, namun wajah juga ikut bengkak.

Mitos kehamilan satu ini ada benarnya walau tak sepenuhnya. Selama mengandung, beberapa wajah bumil memang berubah. Namun menurut Dr. Ashley, penyebabnya karena banyak faktor seperti naiknya berat badan, retensi air, serta perubahan hormon.

Berita baiknya adalah perubahan di wajah tersebut hanya bersifat sementara. Nanti usai melahirkan, begitu kadar hormon sudah kembali normal, maka wajah akan pulih seperti semula. Bila tidak pun, maka perubahannya hanya sedikit saja. Ya, bunda tetap bisa mengenali wajah diri sendiri kok selagi berdiri di depan cermin.

Mitos 3: Banyak makanan yang berbahaya bagi janin.

Mengingat begitu banyaknya peringatan mengenai makanan yang boleh dan tidak untuk bumil, sah-sah saja bila parno tentang mitos yang dilarang saat hamil satu ini. Namun pada dasarnya selama makanan yang hendak disantap tidak termasuk daging mentah, seafood, susu atau keju yang belum dipasteurisasi, serta alkohol, maka itu masih tergolong aman. Bahkan kafein yang sering disebut tidak aman bagi bumilpun masih boleh dikonsumsi dalam batasan wajar.

Mitos 4: Sedikit saja kesalahan bisa membuat janin gugur.

Memang benar bahwa bumil harus selalu berhati-hati. Namun ketahuilah bahwa kebanyakan kasus keguguran terjadi dalam trimester pertama dan hanya menimpa 15-25% bumil saja. Biasanya setelah usia kandungan masuk minggu ke-12 dan seterusnya, risiko keguguran berkurang drastis. Menurut Dr. Ashley, kemungkinan keguguran setelah usia kandungan mencapai 14 minggu hanyalah 1% saja.

Mitos 5: Kemungkinan bayi lahir cacat sangat besar.

Untungnya, hal ini tidak benar. Data menunjukkan kemungkinan bayi terlahir hermaprodit (berkelamin ganda) hanya 1% saja. Sedangkan untuk kasus bayi lahir cacat, pihak CDC (Centers for Disease Control and Prevention) mengatakan hanya 3% bayi di Amerika Serikat yang terlahir demikian setiap tahunnya. Meski presentasenya kecil, kemungkinan ini tetap ada, tapi jangan terlalu parno ya bun.

Mitos 6: Berat badan ketika hamil sulit diturunkan nantinya.

Memang benar bahwa tubuh bumil takkan sama lagi seperti sebelum hamil dulu. Namun soal berat badan impian pasca melahirkan, hal ini masih mungkin diwujudkan, hanya memang butuh waktu yang tak sebentar. Jika dipikir-pikir, tentunya ini masuk akal.

Bayangkan saja, bila butuh waktu 9 bulan untuk naik 15-20 kg, maka tentunya itu takkan merosot drastis dalam waktu semalam saja kan?! Jadi jangan bandingkan diri sendiri dengan selebritis atau teman yang tampaknya bisa langsing secara kilat setelah melahirkan.

Mitos 7: Air ketuban bisa saja tiba-tiba pecah di mana saja.

Yang satu ini juga benar. Tapi sebelum air ketuban pecah, biasanya ada ‘peringatan’ yang diberikan tubuh, umumnya sih berupa kontraksi. Namun bahkan kalau bumil tak merasakan kontraksi tersebut, keluarnya air ketuban takkan sebanyak yang bunda takutkan.

Mitos 8: Kasus bayi lahir prematur sering terjadi.

Pihak CDC mengatakan, kasus persalinan prematur hanya menimpa 10% kehamilan saja di Amerika. Selain itu, persalinan prematur ini rata-rata hanya dialami oleh bumil yang memang berisiko mengalami itu dan sudah diperingatkan oleh dokter sebelumnya. Penyebabnya rata-rata karena:

  • Sebelumnya sang ibu memang pernah melahirkan bayi prematur
  • Hamil bayi kembar
  • Rahim bumil tak berubah seperti yang seharusnya

Walau demikian, ada pula bumil yang melahirkan bayi prematur di luar dugaan (tak mengalami kondisi di atas). Yang pasti jangan parno duluan ya bun, bicarakan saja kekhawatiran bunda dengan dokter.

Mitos 9: Bumil mudah ‘ngompol’ di tempat umum.

Kondisi memalukan satu ini memang mungkin terjadi selama kehamilan, apalagi kalau usia kandungan mendekati waktu persalinan. Aktivitas tertawa, bersin, atau batuk dapat membuat bumil susah menahan kencing yang keluar.

Namun apakah itu berarti kalau air seni yang keluar pasti banyak? Untungnya tidak, belum lagi jika bunda rutin pakai pantyliner, maka air kencing takkan sampai menodai pakaian luar.

Baca juga: 6 Cara Mengatasi Gejala Sering Pipis saat Hamil

Mitos 10: Bumil pasti kalang kabut mengurus bayi setelah ia lahir.

Tak sedikit memang bumil yang cemas mengenai berbagai hal: “Bagaimana jika cara menggendongnya salah?!”, “Duh, gimana ya cara ganti popok, belum pernah sih sebelumnya”, dan lain sebagainya.

Walau merawat bayi baru lahir mungkin bikin kalang kabut dan lelah, namun bunda pasti mampu melalui masa berat tersebut dengan baik. Anggaplah masa ini sebagai pelatihan karena semua ibu muda pasti mengalaminya (apalagi bila jauh dari orang tua atau mertua).  So, don’t worry, be happy 🙂 !

Be the first to write a comment.

Your feedback

Ingin konsultasi dengan ahlinya? Tanya kepada dokter atau psikolog.

Buat Pertanyaan