3 Penyakit Ini Sering Disalahartikan sebagai Gejala Kanker Testis

Memang benar salah satu gejala kanker testis adalah bengkaknya skrotum. Akan tetapi selain kanker testis, ternyata ada penyakit lain yang menimbulkan gejala serupa. Apakah itu?

gejala kanker testis

UNTUNGNYA, penyakit yang dimaksud tidaklah separah kanker testis. Lantas apa sajakah penyakit yang ciri-cirinya serupa dengan gejala kanker testis itu? Berikut detilnya.

1. Hidrokel

Pada satu waktu, cairan memang dapat berakumulasi di sekitar testis sehingga menyebabkan skrotum bengkak. Kondisi inilah yang disebut sebagai hidrokel.

Untuk orang dewasa, penyebab hidrokel masih belum diketahui. Beberapa kasus hidrokel (disebut hidrokel reaktif) memang dapat dipicu oleh inflamasi, infeksi, atau trauma pada testis atau epididimis. Kondisi ini biasanya bisa sembuh jika penyebabnya diatasi.

Sementara pada anak-anak, hidrokel dapat disebabkan karena belum menutupnya celah antara rongga perut dan skrotum ketika ia dilahirkan. Bila cairan dalam kantong yang membungkus testis mengalir dan membuat skrotum penuh, maka yang terjadi adalah hidrokel komunikan.

Lain halnya kalau cairan tadi tertahan setelah celah tertutup, maka kondisinya disebut hidrokel nonkomunikan. Nantinya, cairan tersebut akan terserap oleh tubuh secara perlahan selama tahun pertama sesudah bayi lahir.

Umumnya, kasus hidrokel pada pria dewasa tidak perlu pengobatan khusus, kecuali bila bengkaknya skrotum sampai membuat tidak nyaman. Dalam hal ini, hidrokel dapat diatasi melalui operasi kecil yakni dengan membuat sedikit celah di skrotum agar cairannya bisa keluar. Kantong yang menahan cairan kemudian dihilangkan guna mencegah kambuhnya hidrokel.

2. Infeksi

Epididimis merupakan saluran di belakang testikel yang fungsinya menampung sekaligus menyalurkan sperma. Infeksi bakteri pada epididimis (disebut epididimitis) atau testikel (orkitis) bisa membuat skrotum bengkak atau sakit.

Jika bakteri penyebabnya adalah Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis, maka penyakitnya biasa disebut dengan gonore dan klamidia. Bila penderita gonore dan klamidia melakukan hubungan intim tanpa pengaman, maka ia berpotensi menularkan infeksi tersebut pada pasangannya.

Cara mencegah penularan sekaligus mengobatinya adalah menggunakan antibiotik. Untuk mereka yang aktif secara seksual dan berusia di bawah 35 tahun, antibiotiknya umumnya terdiri dari ceftriaxone dan doxycycline atau azithromycin. Sementara bagi yang di atas 35 tahun, perlu tambahan fluoroquinolone atau trimethoprim-sulfamethoxazole.

Biasanya butuh waktu beberapa minggu bagi bakteri agar bisa diberantas sepenuhnya. Pasien juga harus mengonsumsi semua antibiotik sesuai resep dokter. Jangan sampai lalai menuntaskan pengobatan karena ini dapat membuat bakteri kebal terhadap pengobatan yang diberikan sehingga infeksi tak bisa disembuhkan nantinya.

Di samping itu, epididimitis juga dapat disebabkan bakteri koliform bila urin mengalir kembali ke epididimis. Infeksi semacam ini umumnya diobati dengan antibiotik sulfa atau fluoroquinolone.

Pada beberapa pria, orkitis dipicu oleh virus dan bisa menimpa mereka yang menderita infeksi gondong aktif. Bila ini penyebabnya, maka antibiotik jelas bukan solusinya. Kompres es atau obat antiinflamasi nonsteroid (AINS) umumnya dipakai untuk meredakan sakitnya.

3. Kista dan tumor jinak

Pada pria usia 15-35 tahun, bengkaknya skrotum cenderung menandakan kanker testis. Umumnya, namun tak selalu, bengkak tersebut tidak terasa sakit. Selain bengkak pada skrotum, tumor jinak juga bisa timbul di bagian luar testis.

USG dapat membedakan apakah bengkak tersebut disebabkan kanker testis atau tidak. Bila memang kanker penyebabnya, maka operasi pengangkatan testis agaknya mesti dilakukan. Dalam hal ini, benjolan di luar testis harus diobservasi.

Lain jika ukurannya kecil namun padat dan terletak di epididimis, maka itu biasanya dianggap adenoma. Tak perlu biopsi karena sifatnya biasanya jinak.  Jenis benjolan lain yang juga jinak tak perlu perawatan khusus untuk mengatasinya adalah kista yang berisi cairan.

Solusinya

Walau penyebab bengkaknya skrotum mungkin bukanlah kanker testis, akan tetapi jangan pernah menyimpulkannya sendiri. Tetap periksakan diri ke dokter kalau skrotum bengkak atau terasa sakit. Biarkan dokter melakukan pemeriksaan dengan ultrasound, dan biopsi atau CT scan jika hasilnya kurang jelas.

Jika hasil diagnosanya ternyata kanker testis, jangan panik. Ketahuilah bahwa tingkat kesembuhannya mendekati 100% apalagi bila kondisi ini sudah dideteksi sejak dini. Belum lagi, kasus kanker testis (dan kemungkinannya menyebar) sendiri tergolong jarang.

Yang jelas, jangan pernah menunda periksa karena ini dapat menyebabkan kanker menyebar sehingga menurunkan risiko kesembuhan. Gejala bahwa kanker testis sudah menyebar mirip dengan penyakit mononukleosis dan limfoma non-Hodgkin, yakni:

  • Kelelahan
  • Bengkaknya kelenjar limfa
  • Nafsu makan hilang
  • Kurang tidur

Salah satu gejala yang hanya ada pada mononukleosis dan tidak terdapat pada kanker testis adalah sakit tenggorokan.

Upaya pencegahan terbaik

Upaya pencegahan kanker testis yang terbaik adalah melakukan pemeriksaan sendiri sebulan sekali saat mandi karena pada waktu ini, kulit skrotum berada dalam kondisi lemas dan tipis. Untuk itu, Anda perlu tahu lebih dulu bagaimana keadaan testis yang normal.

Biasanya tak ada sepasang organ tubuh yang 100% sama, salah satu testikel (umumnya sebelah kanan) mungkin menggantung lebih rendah dibanding lainnya. Ukuran maupun bentuk kedua testikel biasanya juga berbeda.

Memeriksa kondisi testis sendiri setiap bulannya bisa menginformasikan kalau-kalau terjadi perubahan, misalnya munculnya benjolan atau bengkak yang sebelumnya tidak ada. Jika ini yang terjadi, sekali lagi segera periksakan diri ke dokter.

Be the first to write a comment.

Your feedback

Ingin konsultasi dengan ahlinya? Tanya kepada dokter atau psikolog.

Buat Pertanyaan