7 Gejala Testosteron Rendah pada Pria Ini Bisa Diatasi Kok!

Jangan pernah meremehkan dampak testosteron rendah pada pria! Tak hanya memengaruhi hasrat seksual saja, testosteron rendah pada pria juga memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.

testosteron rendah pada pria 

TESTOSTERON merupakan hormon yang penting bagi tubuh. “Pada pria, testosteron berfungsi mengatur hasrat seksual, massa tulang, distribusi lemak, massa otot dan kekuatan, serta produksi sel darah merah maupun sperma,” terang NIH (National Institutes of Health). Lebih dari itu, hormon ini jugalah yang menentukan seberapa dalam/berat suara pria, pertumbuhan rambut/bulu di kulit, mood, serta membantu fungsi kognitif.

Utamanya, hormon ini diproduksi oleh testikel, namun ada pula yang dihasilkan dari kelenjar adrenal. Sayangnya, seiring bertambahnya usia, kadar testosteron dalam tubuh mengalami penurunan. Kondisi testosteron rendah pada pria ini biasa disebut sebagai hipogonadisme.

Biasanya kadar testosteron mencapai puncaknya di awal masa dewasa, lalu mulai menurun ketika pria mencapai usia 40an, yakni sekitar 1-2% setiap tahunnya. Hasil laporan Urology Care Foundation bahkan menyebutkan:

  • Adalah normal jika kadar testosteron pada pria menurun seiring bertambahnya usia.
  • Sekitar 3 dari 10 pria akan mengalami testosteron rendah di usia 70 dan 80an.
  • Sedangkan 2 dari 10 pria justru sudah mengalaminya setelah umur 60an.
  • Beberapa pria bahkan rendah testosteronnya sebelum usia tersebut akibat berbagai hal seperti penyakit kronis, trauma, stres, dan lain sebagainya.

Diagnosa dan gejala testosteron rendah

Masalahnya adalah jika kadar hormon ini rendah, maka pria tersebut akan mengalami berbagai masalah. Standar testosteron rendah menurut Harvard Health Publishing ada 2, yakni jika kadarnya dalam darah kurang dari 300 mg/dl, dan kalau pria tersebut mengalami gejala tertentu.

Sekarang mari kita ketahui apa saja gejala testosteron rendah itu.

1. Mudah lelah

Kondisi lelah akibat rendahnya testosteron di sini sangatlah ekstrim. Jadi walau seseorang sudah beristirahat cukup, namun bila masih saja terus-menerus lelah, maka penyebabnya bisa jadi hipogonadisme tadi.

2. Depresi dan moody

Hasil studi 2012 menemukan korelasi antara testosteron rendah dengan depresi pada pria usia lanjut. Ternyata ada kaitan erat antara kadar hormon pria satu ini dengan naik-turunnya emosi seperti gelisah, mudah tersinggung, moody, gugup, dan lain sebagainya.

3. Lemak tubuh meningkat, massa otot berkurang

Karena hormon ini membantu pembentukan otot dan pengurangan lemak, maka bila kadarnya rendah, otomatis yang bakal terjadi adalah sebaliknya. Dalam hal ini, penumpukan lemak rata-rata terjadi di area perut. Untungnya, walau massa otot terkena dampaknya, namun rendahnya testosteron tidak memengaruhi kekuatan maupun fungsi otot.

4. Disfungsi ereksi dan turunnya hasrat seksual

Supaya pria bisa ereksi, maka tubuhnya perlu kadar testosteron yang cukup. Saat terangsang, testosteron membantu menstimulasi produksi NO (nitrik oksida), molekul yang melalui serangkaian reaksi kimia berfungsi merilekskan otot dan melebarkan pembuluh darah sehingga darah dapat mengalir ke penis. Walau demikian, testosteron rendah hanyalah salah satu dari sekian banyak penyebab disfungsi ereksi lainnya.

Selain itu, memang normal kalau hasrat seksual menurun seiring pertambahan usia. Namun karena testosteron merupakan hormon seks utama pria, maka bila hasrat seksual turun signifikan sebelum usia yang disebutkan tadi, segeralah periksakan diri ke dokter. Siapa tahu Anda sedang mengalami hipogonadisme.

Baca juga: Cara Menyeimbangkan Hormon Testosteron

5. Gangguan tidur

Apakah belakangan Anda mengalami insomnia, sering bangun saat tengah malam, atau gangguan tidur lainnya? Hasil studi 2014 menyebutkan testosteron rendah berdampak pada kualitas tidur, dan begitu pula sebaliknya.  Kurang tidur ternyata mampu menurunkan kadar hormon ini.

6. Berkurangnya massa tulang

Turunnya hormon ini dapat memicu osteoporosis pada pria. Oleh sebab itu, penderita hipogonadisme diimbau menjalani terapi hormon testosteron.

7. Anemia

Karena salah satu fungsi testosteron adalah membantu tubuh memproduksi sel darah merah, maka rendahnya hormon ini dapat memicu anemia yang berujung pada kelelahan dan lemas.

Cara mengatasi testosteron rendah

Untungnya, terapi hormon testosteron bukanlah satu-satunya jalan untuk mengatasi kondisi ini. Kalau dokter berhasil menemukan penyebabnya, misalnya terlalu gemuk atau efek obat tertentu, maka terapi hormon biasanya tak perlu dilakukan. Dalam hal ini, pria tersebut hanya perlu mengeliminasi faktor penyebabnya saja.

Karenanya seringkali dikatakan bahwa cara mengatasi testosteron rendah tak cukup hanya dengan terapi hormon saja, melainkan dengan mengubah gaya hidup atau obat yang diminum juga. Untuk terapi hormon, pengobatan ini dapat ditempuh dengan berbagai cara seperti menggunakan koyo, gel, obat minum, suntikan, atau implan yang ditanam di bawah kulit.

Yang pasti sebelum memulai perawatan terapi hormon, konsultasikan benar-benar mengenai dampak baik-buruknya. Umumnya terapi ini tidak disarankan untuk pria yang memiliki sejarah penyakit kanker prostat, gangguan prostat, masalah jantung, dan beberapa kondisi lainnya.

Be the first to write a comment.

Your feedback

Ingin konsultasi dengan ahlinya? Tanya kepada dokter atau psikolog.

Buat Pertanyaan