7 Langkah Selamatkan Hubungan yang Retak Menurut Para Ahli

Pasti ada masa-masa naik dan turun dalam sebuah hubungan. Hampir retak pun mungkin pernah. Namun, jangan berputus asa dulu dan berpikir bahwa ini adalah akhir dari hubungan yang telah lama dibina. Tetap optimis dong! Hubungan yang hampir retak masih mungkin direkatkan lagi. Beginilah cara menyelamatkan hubungan yang retak dengan tujuh langkah saja.

menyelamatkan hubungan yang retak

SEIRING lamanya sebuah hubungan berjalan, fase bulan madu pun akan berlalu. Perlahan-lahan, hal yang tadinya tampak biasa saja jadi terasa mengganggu. Konflik sering terjadi, perdebatan sering pecah, dan Anda pun mulai terasa tak terhubung dengan pasangan.

Meski ini bisa jadi penyebab renggangnya sebuah hubungan, bukan berarti ikatan Anda dengan si dia akan lepas begitu saja. Masih ada peluang kok untuk menyelamatkan hubungan yang retak.

Untuk mencegah hancurnya hubungan yang mulai tak terasa nyaman, langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah komunikasi. Ya, komunikasi dengan pasangan dan mengeluarkan segala unek-unek di dada adalah langkah pertama untuk menyelamatkan hubungan yang retak.

Setelah itu, keduanya pun mesti menginvestasikan besar usaha yang sama agar hubungan tetap bertahan. Jika satu orang saja yang berusaha keras, maka tak akan ada artinya. Lantas, apa saja sih yang mesti Anda dan pasangan sama-sama lakukan untuk menyelamatkan hubungan yang retak? Dikutip dari bustle.com, inilah dia tujuh langkah mudahnya.

Perbaiki Cara Anda Melihatnya

Beberapa kebiasaan dia yang mengganggu mungkin sedikit banyak mengubah cara pandang Anda terhadapnya. Tanpa sadar, Anda pun mulai melontarkan komentar-komentar nyinyir yang secara tak langsung menyakitinya. Untuk memutus siklus ini, perbaiki cara Anda memandangnya dan bangun kembali respect yang mungkin sempat hilang.

Akui dengan Jujur Kesalahan Anda

Mengakui kesalahan memang sulit karena hal ini akan menyinggung ego pribadi. Namun, jika Anda benar-benar menginginkan hubungan yang baik, akuilah kesalahan yang telah diperbuat.

Dengan demikian, baik Anda dan pasangan pun akan merasa lega. Masing-masing pun jadi akan tahu perilaku seperti apa yang dapat merusak hubungan sebelumnya.

Baca juga: Ini Lho Cara Meminta Maaf dengan Tulus kepada Pasangan

Bicara dengan Satu Sama Lain Selama 20 Menit Setiap Harinya

Salah satu cara menguatkan kembali hubungan adalah dengan merekatkan koneksi kembali. Berbicaralah dengan satu sama lain selama 20 menit setiap harinya untuk tahu kabar masing-masing. Apa yang sedang dilalui, apa yang akan dilakukan, dan lain-lain. Ini akan membantu Anda dan dia untuk lebih akrab lagi.

Pahami Sudut Pandang Pasangan

Setiap orang butuh divalidasi. Maka dari itu, ketika pasangan mengutarakan pendapatnya, coba pahami sudut pandangnya. Ketika Anda mengkritik atau menolak pendapatnya, coba sampaikan dengan cara yang baik dan dengan kata-kata yang tepat.

Jangan Takut Melakukan Aktivitas Sendirian

Senatiasa bersama dengan pasangan dalam melakukan aktivitas bukanlah hal yang buruk. Itu tandanya Anda merasa nyaman satu sama lain. Namun, jangan terlalu tergantung dengan pasangan.

Sebab, terlalu bergantung dengannya malah bisa membuat Anda bosan lama-kelamaan. Karena itu, jangan pernah ragu untuk melakukan aktivitas favorit Anda sendiri. Cari waktu “me time” sekali-kali.

Baca juga: 7 Tanda Anda Terlalu Lengket dengan Si Dia

Bertanggung Jawab Perihal Kesalahan yang Diperbuat

Setiap pasangan memiliki porsi 50% dalam hubungan, baik sisi bagus maupun sisi buruknya. Karena itu, ketika ada masalah, akuilah bahwa Anda memiliki peran di dalamnya dan bertanggung jawablah untuk membuat kondisi jadi lebih baik setelahnya. Dengan masing-masing pihak menyadari kesalahan, perbaikan hubungan akan lebih mudah dilakukan.

Carilah Bantuan Profesional

Bila Anda kesulitan menyelesaikan masalah hubungan ini sendirian, carilah bantuan profesional untuk memediasi. Dengan demikian, Anda dan pasangan dapat bergerak dan berimprovisasi ke arah yang tepat.

Be the first to write a comment.

Your feedback

Ingin konsultasi dengan ahlinya? Tanya kepada dokter atau psikolog.

Buat Pertanyaan