Benarkah Sunat Bisa Turunkan Risiko Penularan HIV?

Ada yang bilang kalau sunat mampu mencegah AIDS. Benar atau tidak ya? Untuk mengetahui jawabannya, mari simak hasil riset mengenai sunat dan kaitannya dengan penularan HIV.
mencegah aids
MEMANG ada bukti kuat bahwa pria yang disunat memiliki risiko lebih kecil tertular HIV (melalui hubungan intim heteroseksual), dibanding yang tidak bersunat. Akan tetapi sayangnya, hingga kini, hasil riset tersebut masih jadi perdebatan.
Serangkaian hasil eksperimen acak yang diadakan di Afrika mulai tahun 2005-2007 menemukan bahwa sunat dapat meminimalisir penularan HIV dari vagina ke penis sebesar 51-60%. Berdasarkan kesimpulan percobaan tersebut, tahun 2007 WHO dan UNAIDS mengeluarkan pernyataan:”sunat harus dianggap sebagai strategi tambahan penting untuk mencegah AIDS pada pria…. (tapi) tidak boleh diandalkan 100% sehingga sampai menggantikan metode pencegahan HIV lainnya.”

Sunat untuk mencegah AIDS: apakah hanya bekerja 1 arah?

Baiklah, jika sunat memang dapat mencegah penularan HIV dari wanita ke pria, maka bagaimana dengan sebaliknya? Apakah sunat juga bisa mencegah penularan HIV pada pasangan serodiskordan, di mana prianya yang positif HIV, sedangkan wanitanya negatif?
Sayangnya, hasil riset menjumpai kalau sunat tak bisa mencegah penyebaran HIV dari pria HIV positif ke wanita HIV negatif. Ada berbagai alasan mengenai hal ini, salah satunya adalah karena struktur biologis alat reproduksi wanita yang memang lebih rawan terinfeksi HIV. Terkait hal ini, belum ada juga bukti yang menyatakan jika sunat dapat mengurangi risiko penularan AIDS pada pria homoseksual yang biasanya berhubungan intim melalui anal.
Hal lain yang membuat teori ini masih jadi perdebatan adalah fakta bahwa sunat tampaknya tidak berpengaruh pada penyebaran HIV di negara berkembang, seperti yang terjadi di daerah endemis (Afrika misalnya).

Hasil studi lainnya

Ternyata berbagai studi mengenai “Sunat vs HIV” ini sudah dilakukan sejak lama di Afrika. Beberapa hasil riset antara tahun 1989 dan 2005 misalnya, meski tampak agak dipaksakan, salah satu studi besar-besaran di Uganda menyimpulkan kalau infeksi HIV didapati 42% lebih rendah pada pria bersunat.
Hasil review sistematis terhadap 35 studi yang dilakukan pada 2005 juga menunjukkan adanya peningkatan jumlah pria bersunat dan menurunnya penyebaran HIV dari wanita ke pria. Meski demikian, hasil review tersebut dianggap belum layak untuk menjamin kalau sunat dapat dijadikan salah satu alat pencegah penularan HIV.
Sedangkan tahun 2005-2007, rangkaian uji-coba yang diadakan di 3 negara Afrika berbeda mengeluarkan kesimpulan:
Kenya – sebanyak 2748 pria usia 18-24 tahun berpartisipasi dalam studi yang diadakan Universitas Illinois. Studi diakhiri lebih cepat dari yang seharusnya ini muncul dengan kesimpulan bahwa sunat dapat mencegah penularan HIV dengan tingkat efisiensi mencapai 53%.
Afrika Selatan – 3273 pria usia 16-24 tahun mengikuti penelitian yang didanai ANRS. Setelah 17 bulan berlalu, hasilnya menunjukkan kalau penularan HIV 60% lebih rendah pada kelompok pria yang sudah disunat.
Uganda – 4996 pria usia 15-49 menjadi relawan dalam penelitian yang diadakan John Hopkins Bloomberg School of Public Health. Hasil studi tersebut juga menunjukkan bahwa sunat dapat menurunkan risiko HIV pada pria sebesar 51%.

Bagaimana mekanismenya hingga sunat dapat mengurangi penularan HIV?

Studi beberapa tahun belakangan menduga, bioma bakteri di bawah kulit khatanlah yang meningkatkan risiko penularan HIV pada pria tak bersunat. Riset mengindikasikan kepadatan populasi bakteri di area tersebut mengubah sel Langerhans pada permukaan kulit menjadi “pengkhianat” bagi sistem kekebalan tubuh.
Normalnya, sel Langerhans berfungsi untuk menangkap dan membawa kuman menghadap sel imun (termasuk sel CD4) untuk dinetralisir. Namun bila jumlah bakteri di bawah kulit terlalu banyak, tubuh akan mengeluarkan respon inflamatori. Ini membuat sel Langerhans gagal melakukan fungsi normalnya.
Nah jika penis disunat, maka bakteri anaerob yang hidup di bawah kulit tak bisa berkembang, menyebabkan berkurangnya respon inflamatori tadi.

Kesimpulannya

Mungkin benar bahwa sunat terbukti mampu menurunkan risiko penularan HIV, khususnya di daerah endemis. Ini artinya biaya yang harus dikeluarkan (untuk sunat) jauh lebih sedikit ketimbang jika seseorang harus menjalani terapi antiretroviral (ART). Namun soal metode pencegahan HIV, beberapa pihak mengkalkulasi pemakaian kondom masih tetap jauh lebih efektif ketimbang sunat.
Hal lain yang perlu diketahui adalah American Academy of Pediatrics berpendapat, sunat memiliki manfaat positif bagi bayi laki-laki baru lahir. Sunat mampu mencegah infeksi saluran kemih, kanker penis, serta penularan penyakit menular seksual (termasuk HIV).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *