Bumil Mesti Waspadai Komplikasi Serius dari Infeksi Herpes Genital!

Ibu hamil terkhususnya, yang menderita herpes kelamin sebaiknya memerhatikan benar komplikasi herpes terhadap janin berikut ini.

herpes genital

HERPES genital atau herpes kelamin merupakan penyakit menular seksual (PMS) yang ditandai dengan rasa sakit dan munculnya luka pada alat genital. Diperkirakan lebih dari 3 juta penduduk Amerika Serikat menderita herpes kelamin setiap tahunnya.

Sayangnya, begitu terinfeksi virus penyebabnya, penderitanya harus hidup dengan penyakit ini sepanjang sisa hidupnya. Walau status penyakit/virusnya rata-rata off pada kebanyakan waktu, namun penderitanya pasti mengalami serangkaian episode berkala ketika herpes genital sedang aktif-aktifnya.

Yang paling mengkhawatirkan

Selain penyakit itu sendiri, herpes kelamin biasanya tidak menimbulkan gangguan kesehatan lain pada penderita usia dewasa. Namun pada beberapa kasus di mana sistem imun sedang lemah, episode herpes genital bisa berlangsung lebih lama dari biasanya (lebih dari 2-3 minggu), dan sifatnya parah.

Alasannya karena imun tubuh yang lemah membuat dampak virus herpes lebih besar. Tapi secara umum, hal yang seharusnya paling dikhawatirkan begitu terjangkit virus ini adalah luka herpesnya.

Komplikasi herpes

Pada kasus yang jarang terjadi, komplikasi herpes tetap dapat terjadi. Jika seorang wanita mengalami episode pertamanya selagi hamil (herpes primer), ia berpotensi menularkan virus tersebut kepada janin dan mungkin bakal melahirkan secara prematur.

Tragisnya, 50% dari bayi yang terinfeksi herpes meninggal atau mengalami kerusakan saraf. Selain itu, bayi yang terlahir dengan herpes juga berpotensi mengalami gangguan serius pada otak, kulit, atau matanya.

Tapi bila bayi penderita herpes dirawat sesegera mungkin dengan acyclovir, maka tingkat kesehatannya bisa meningkat. Oleh karena itu, ibu hamil yang terinfeksi herpes kelamin diimbau rutin periksa ke dokter sebelum, selama, atau setelah bayi lahir.

Jika herpesnya tergolong sekunder (bukan pertama kalinya, tapi aktif kembali), maka risiko bayi terinfeksi selama persalinan sangat rendah.

Kalau terjadinya selama proses persalinan dan ditemukan ada luka herpes pada atau dekat jalan lahir, dokter akan melakukan operasi caesar untuk melindungi bayi. Lain halnya dengan penderita herpes genital yang tidak menunjukkan gejala infeksi aktif pada waktu tersebut, ia dapat melahirkan secara normal.

Be the first to write a comment.

Your feedback

Ingin konsultasi dengan ahlinya? Tanya kepada dokter atau psikolog.

Buat Pertanyaan