Ejakulasi Dini Bisa Diatasi dengan 6 Metode Psikologis Ini

Ejakulasi dini adalah keadaan dimana ejakulasi terjadi terlalu cepat, atau sebelum pria menghendakinya. Masalah pria ini bisa membuat penderitanya tidak percaya diri, bahkan frustasi.

PENYEBAB atau beberapa penyebabnya masih belum diketahui. Penjelasan ejakulasi dini dapat berkaitan dengan masalah biologis dan masalah psikologi. Namun, faktor psikologi dikenal dapat memperburuk atau mengendapkan kondisi disfungsi ereksi, sehingga cara menyembuhkan ejakulasi dini yang dilakukan menyangkut terapi psikologi.

Penyebab PsikologisEjakulasi Dini

Disfungsi ereksi, khususnya ejakulasi dini dapat menurunkan rasa percaya diri, menyebabkan pria enggan memulai hubungan atau membawa kecurigaan bahwa pasangan mungkin mencari hubungan dengan pria lain. Dalam sebuah hubungan, seorang pria mungkin akan merasa salah paham bahwa orang lain tidak dapat mengetahui rasafrustasi dan malu yang biasanya mereka alami.
Pasangan mereka pun akan merasa bingung karena penderita ejakulasi dini mungkin akan menarik diri dan malu untuk membahas masalah yang dialami. Padahal, komunikasi yang terbuka adalah salah satu kunci untuk menjaga kehangatan hubungan supaya ejakulasi dini tidak menjadi pemicu keretakan rumah tangga.
Baca juga:5 Kesalahan Besar yang Bisa Sebabkan Ejakulasi Dini

Keuntungan dari Psikoterapi untuk Ejakulasi Dini

Stanley E. Althof, Ph.D., dari Center for Marital and Sexual Health di Florida, Amerika Serikat telah menganalisis kekuatan dan batasan dari intervensi psikologikal yang berbeda untuk mengatasi ejakulasi dini.
Ia berpendapat bahwa psikoterapi sendiri adalah cara menyembuhkan ejakulasi dini yang terbaik untuk pria atau pasangan yang memiliki penyebab di faktor psikologis. Contohnya, ejakulasi dini yang disebabkan oleh depresi atau kekhawatiran atas performa seks.
Pendekatan terbaru psikoterapi sebagai cara menyembuhkan ejakulasi dini menekankan kontrol ejakulasi dengan cara mempelajari teknik baru, meningkatkan kepercayaan diri, melepaskan kekhawatiran, dan belajar untuk berkomunikasi lebih baik lagi.

Psikoterapi untuk Pria Lajang dan Ejakulasi Dini

Bagi para pria lajang yang belum memiliki pasangan, sesi psikoterapi secara individu mungkin akan dapat membantu dalam menghilangkan keengganan untuk memiliki hubungan romantis.
Sedangkan untuk pria yang berpasangan, psikoterapi individual mungkin dapat membantu untuk menghilangkan ejakulasi dini yang berasal dari permasalahan masa kecil, permasalahan pada trauma, atau dendam terpendam terhadap wanita.
Psikoterapi individual dapat menghasilkan banyak infromasi dengan cara memeriksa penyebab dari keengganan untuk memasuki sebuah hubungan, serta ketakutan atau permusuhan terhadap wanita.
Cara ini dapat saja berupa teknik modifikasi perilaku, yaitu teknik spesifik yang dapat dipelajari untuk mengatasi ejakulasi dini, dan meningkatkan keinginan untuk berhubungan intim, dan mengatasi rasa khawatir.

Psikoterapi untuk Pasangan dan Ejakulasi Dini

Untuk pasangan, kombinasi psikoterapi dapat membantu jika kedua belah pihak termotivasi untuk mencari cara menyembuhkan ejakulasi dini, dimana banyak faktor penyebab ejakulasi dini dapat dieksplorasi.
Terapi pasangan dapat berupa eksploratif, mencari permasalahan dalam hubungan yang menjadi penyebab masalah seksual dan ejakulasi dini. Atau, bisa juga berupa terapi behavioral, dengan teknik spesifik yang berkaitan dengan kontrol ejakulasi dan libido. Terapi jenis ini dilakukan langsung oleh pasangan dan biasa disebut terapi seks.

Psikoterapi dengan Obat-obatan

Mengombinasikan obat-obatan dengan terapi psikologis, menurut Dr. Althof, adalah solusi terbaik. Efek dari obat-obatan yang memperlambat ejakulasi dapat membantu membangun kepercayaan diri sebelum psikoterapi diterapkan.
Saat waktunya, pria dapat diajarkan untuk tidak takut terhadap libidonya dan lebih menikmati sensasi lain yang ia rasakan. Sekali berhasil, banyak pria dapat terlepas dari obat-obatan secara keseluruhan.
Baca juga: Suntik Botox Bisa Atasi Ejakulasi DIni?

Apakah Terapi Psikologis Berhasil?

Studi pada terapi seks biasanya kecil dan tidak dikontrol. Jika dibandingkan dengan penelitian medis, perbedaannya sangat signifikan, dimana penelitian medis biasanya besar dan dikontrol.
Tingkat kesuksesan dari studi seks yang dilakukan oleh Masters dan Johnson (1970) tidak pernah diulang oleh penelitian setelahnya. Semua studi dengan laporan follow-up setelahnya, menunjukkan bahwa 75% pria cenderung mengalami ejakulasi dini kembali setelah berhasil diterapi. Namun, kepuasan seksual yang mereka alami cenderung semakin meningkat.
Di sisi lain, Dr. Althof percaya bahwa perawatan psikologis sangat bermanfaat untuk pria secara individu maupun berpasangan, terlepas dari ada-tidaknya terapi selain obat-obatan. Hasilnya menunjukkan peningkatan secara keseluruhan terhadap kepuasan seksual dan kepuasan dalam hubungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *