HIV

Diagnosis HIV

Diagnosa pasti dari infeksi HIV secara umum didapatkan melalui pemeriksaan darah. Pemeriksaan darah untuk mendiagnosa HIV dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pemeriksaan penyaringan. Apabila hasil pemeriksaan tersebut menunjukkan hasil positif, pemeriksaan kedua baru dilakukan untuk mengonfirmasi hasil pemeriksaan pertama.

Terdapat tiga macam pemeriksaan penyaringan yang dilakukan yang menggunakan darah sebagai spesimen pemeriksaannya, yaitu :

  • Pemeriksaan antibodi HIV. Biasanya sekitar 21-84 hari setelah infeksi, sekitar 97% tubuh penderita akan memproduksi antibodi HIV yang dapat dideteksi melalui darah. Jika Anda merasa terinfeksi, namun tes HIV menunjukkan hasil negatif, maka lakukan tes HIV ulang 3 bulan setelahnya. Hal ini untuk memastikan apakah Anda memang bebas infeksi HIV atau sudah terinfeksi namun antibodi belum terbentuk, sehingga belum dapat terdeteksi dalam pemeriksaan darah.
  • Kombinasi pemeriksaan antibodi/antigen generasi keempat dapat mendeteksi jumlah antibodi HIV dan bagian dari virus yang disebut antigen p24. Guna memperkuat diagnosa virus HIV, tes antigen juga perlu dilakukan. Antigen merupakan bagian dari virus yang mengaktifkan respon sistem imun tubuh. Biasanya butuh waktu 13-42 hari bagi antibodi dan antigen agar dapat terdeteksi.
  • Pemeriksaan RNA (HIV RT PCR atau viral load).
  • Sebagai tambahan, ada pemeriksaan darah yang dinamakan Western blot yang penting dilakukan untuk mengonfirmasi diagnosa pasti HIV.

Tidak ada jenis pemeriksaan yang sempurna. Hasil pemeriksaan bisa menunjukkan jawaban positif palsu atau negatif palsu. Sebagai contoh, sistem imun membutuhkan cukup waktu untuk memproduksi antibodi sehingga pada pemeriksaan hasil menunjukkan positif.

Periode waktu hingga jumlah antibodi cukup supaya dapat terbaca oleh hasil pemeriksaan darah disebut sebagai periode jendela dan dapat berlangsung selama enam minggu hingga tiga bulan sejak terinfeksi.

Pengecekan kadar antigen/antibodi merupakan pemeriksaan yang paling sensitif dan baru menunjukkan hasil positif dalam dua minggu setelah infeksi terjadi. Apabila hasil pemeriksaan antibodi menunjukkan hasil negatif atau tidak jelas, pemeriksaan ulangan harus dilakukan tiga bulan kemudian untuk mendapatkan hasil yang lebih jelas.

Pemeriksaan lain dapat mendeteksi antibodi di dalam cairan tubuh selain darah, seperti air liur, urin, dan cairan vagina. Hasil pemeriksaan ini bisa didapatkan dalam waktu yang relatif sangat singkat yaitu 20 menit dan disebut sebagai rapid test. Pemeriksaan cepat ini memiliki tingkat akurasi yang serupa dengan pemeriksaan darah konvensional.

Semua hasil pemeriksaan penyaringan HIV positif harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan darah yang disebut Western blot untuk mendapatkan diagnosa positif. Apabila hasil pemeriksaan penyaringan dan Western blot menunjukkan hasil positif, kemungkinan seseorang terinfeksi HIV meningkat hingga lebih dari 99%.

Pada beberapa kasus yang jarang, hasil pemeriksaan Western blot menunjukkan hasil yang tidak jelas, yang artinya tidak bisa disebut positif atau negatif. Pada kasus tersebut, pemeriksaan biasanya akan diulang di kemudian hari. Sebagai tambahan, sebuah pemeriksaan RNA dapat juga dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan infeksi HIV.

Karena antigen p24 dapat timbul di dalam darah sebelum tubuh memproduksi antibodi, pemeriksaan penyaringan antibodi/antigen dapat meminimalisir periode jendela dan bisa menghasilkan waktu deteksi infeksi HIV yang lebih singkat.

Pemeriksaan RNA (tes viral load) dapat mendeteksi RNA HIV di dalam darah. Pemeriksaan ini jarang digunakan namun dapat berguna untuk mendeteksi infeksi HIV dini ketika penderita berada di dalam periode jendela atau apabila hasil pemeriksaan penyaringan menunjukkan hasil yang tidak jelas.

Tes ini biasanya hanya dilakukan oleh penderita yang mengalami gejala awal HIV atau yang memiliki potensi besar tertular virus tersebut. Cara kerja tes ini sedikit berbeda dari 2 tes sebelumnya.

Bukan dengan mendeteksi antibodi, tes ini digunakan untuk mencari tahu ada-tidaknya virus HIV dalam tubuh seseorang. Dan rata-rata butuh waktu 7-28 hari bagi virus HIV agar dapat terdeteksi keberadaannya dalam darah seseorang. Pada praktiknya, tes asam nukleat ini biasanya diikuti juga dengan tes antibodi.