Jangan Percaya dengan 10 Mitos Kontrasepsi Ini

Ada berbagai metode kontrasepsi yang efektif digunakan untuk mencegah kehamilan. Beberapa di antaranya memang sudah teruji secara klinis, tapi ada juga lho yang hanya mitos kondom belaka.
mitos kondom
APA yang dipercayai seseorang pasti menentukan bagaimana ia bertindak. Nah jika yang ia yakini salah, maka besar kemungkinan hasilnya juga keliru. Salah satu bidang kehidupan yang tak boleh dipandang sepele adalah soal punya anak. Oleh sebab itu, pasangan yang berencana menunda kehamilan atau tidak menambah momongan lagi, sebaiknya tidak lagi memercayai berbagai mitos berikut:

Mitos 1: Anda tidak bisa hamil saat pertama kali berhubungan intim

Survei menunjukkan, 1 dari 20 perempuan hamil ketika mereka baru pertama kali berhubungan intim. Jadi bukan soal pertama kalinya atau bukan.
Ketika tubuh perempuan mulai berovulasi, maka ia bisa mengandung kapan saja. Ia baru berhenti bereproduksi jika sudah menopause nanti.
Remaja perempuan juga mungkin hamil bahkan sebelum ia memperoleh haid pertamanya. Alasannya karena ovulasi diperkirakan terjadi 14 hari sebelum menstruasi. Jadi hati-hatilah, karena selama tubuh masih berovulasi, kehamilan tidak mengenal istilah terlalu muda atau terlalu tua.

Mitos 2: Douching, mandi, atau berendam efektif mencegah kehamilan

Ada yang berpikir, douching (menyemprotkan air dalam vagina) setelah intercourse mampu ‘membersihkan’ sperma agar tak sampai masuk dan membuahi sel telur. Hal ini tentu saja tidak benar, tak peduli seberapa cepat douching dilakukan. Oleh sebab itu, douching tidak pernah dianggap sebagai salah satu metode kontrasepsi yang efektif.
Sperma juga takkan ‘terusir’ keluar ketika seseorang langsung kencing atau mandi, baik menggunakan pancuran (shower) atau bath tub (berendam), setelah berhubungan intim.
Teori lain menyebutkan, douching dengan Coca Cola efektif membunuh sperma. Walau kadangkala teori ini ada benarnya, tapi Anda tidak dianjurkan melakukannya. Jangan sampai kandungan dari minuman soda tersebut membahayakan kesehatan sistem reproduksi.
Sebagai tambahan, menggunakan obat suppositoria yang dimasukkan dalam vagina atau spray yang disemprotkan ke dalam organ keintiman juga tak bisa mencegah kehamilan. Malahan, menggunakan produk demikian bisa berbahaya bagi kesehatan alat reproduksi.
Intinya, Anda tetap bisa hamil meski hubungan intim dilakukan dalam air. Beberapa berpikir suhu air yang panas mampu membunuh sperma. Itu memang benar, namun yang faktanya tak selalu demikian. Pasangan justru disarankan tidak bercinta dalam air karena berisiko kena infeksi, entah karena bahan kimia atau bakteri yang ada dalam air.

Mitos 3: Takkan terjadi kehamilan jika pria menarik keluar penisnya dari vagina sebelum ia berejakulasi

Anda mungkin sudah tak asing lagi dengan ‘metode kontrasepsi’ satu ini. Sayangnya, teknik withdrawal atau senggama terputus tak boleh diandalkan karena beberapa alasan:

  • Begitu seorang pria terangsang, ia sebenarnya sudah mengejakulasikan cairan yang mengandung sedikitnya 300.000 sperma (ingat dari jumlah ratusan itu, hanya perlu 1 saja yang berhasil membuahi sel telur agar terjadi kehamilan)
  • Iya kalau menarik keluar penisnya tepat waktu, bagaimana jika tidak? Lagipula, di momen panas seperti itu, siapa yang dapat menjamin bila pasangan pasti tetap mampu mengendalikan dirinya?
  • Bahkan bila pasangan memang berhasil dan berejakulasi di luar vagina, tapi sperma memiliki kemampuan berenang. Jadi air mani yang ‘jatuh’ dekat vaginapun tetap berpotensi memicu kehamilan.

Kesimpulannya, metode withdrawal ini hanya efektif kalau dilakukan dengan sempurna, dan pada prakteknya, itu sangatlah sulit.

Mitos 4: Anda tidak mungkin hamil bila berhubungan intim saat haid

Banyak yang percaya akan hal ini, padahal faktanya tidak demikian. Kemungkinan hamil saat haid tetap ada. Memang sih tubuh tidak berovulasi sewaktu menstruasi sehingga tak mungkin hamil. Namun, perempuan yang siklus haidnya tidak teratur atau singkat saja dapat berovulasi selama menstruasi.
Belum lagi fakta bahwa sperma mampu bertahan dalam tubuh perempuan hingga 5 hari lamanya. Jadi kalau tubuh berovulasi kapan saja dalam 7 hari ketika hubungan intim dilakukan tanpa pengaman, maka risiko hamil tetap ada.

Mitos/Fakta 5: Pil KB menyebabkan kanker

Ternyata, teori mengenai pil KB mampu menyebabkan kanker itu tidak sepenuhnya salah. Di satu sisi, pil KB memang dapat menurunkan risiko kanker tertentu. Tapi di sisi lainnya, itu juga meningkatkan kemungkinan jenis kanker lainnya.
Berbagai studi menunjukkan penggunaan pil KB diduga meningkatkan risiko kanker serviks. Kemungkinan ini bahkan bertambah 3 kali lipat pada perempuan yang menggunakan pil KB selama 4-9 tahun. Risikonya naik 4 kali lipat lebih tinggi bila pil KB digunakan selama 10 tahun atau lebih.
Soal ini, ada nasihat yang menganjurkan perempuan melakukan pap smear dan pemeriksaan ginekolog rutin supaya risiko kanker atau perawatan dini dapat dilakukan. Alternatif lain agar terhindar dari kanker mematikan ini adalah dengan memperoleh vaksin HPV.
Pil KB juga diduga mampu meningkatkan risiko kanker payudara, meski kemungkinan ini lebih kecil dibanding kanker serviks. Berbagai studi menemukan adanya peningkatan kasus kanker payudara pada pengguna pil, dan kemungkinan ini menurun 10 tahun setelah pil berhenti digunakan.
Oleh karenanya, perempuan yang memiliki risiko mengalami kanker payudara (misalnya karena nenek atau ibunya pernah menderita penyakit ini) disarankan berkonsultasi lebih dulu dengan dokter sebelum memilih alat kontrasepsi terbaik.
Di sisi lain, pil KB ternyata menurunkan risiko kanker ovarium sebanyak 50% setelah 5 tahun penggunaan. Lebih dari itu, kontrasepsi oral tersebut juga meminimalisir risiko kanker endometrium (rahim).

Mitos 6: Gunakan balon atau plastik saja kalau tak punya kondom

Sayangnya, ini hanyalah mitos kondom belaka. Baik plastik maupun balon yang ‘disarungkan’ dalam penis, tetap tak bisa menggantikan kondom yang memang dirancang khusus untuk mencegah kehamilan. Kepercayaan lainnya yang juga tidak benar adalah bahwa odol/pasta gigi dapat berfungsi sebagai spermisida.

Mitos 7: Kehamilan dapat dicegah dengan melompat atau memasukkan sesuatu dalam organ keintiman.

Tak sedikit yang percaya bila aksi bersin, batuk, atau melompat sesudah berhubungan intim dapat mengeluarkan sperma dari vagina. Tentu saja ini tidak benar karena sperma bergerak sangat cepat dan ukurannya pun sangat kecil.
Selain itu, meletakkan sesuatu (entah biji-bijian atau lainnya) ke dalam vagina sebelum, selama, atau pasca berhubungan badan juga takkan mencegah pembuahan. Malahan tindakan ini bisa membahayakan tubuh.

Mitos 8: Berhubungan badan dalam posisi berdiri dapat mencegah kehamilan.

Berbagai mitos terkait posisi bercinta memang banyak jenisnya. Salah satu yang paling umum adalah Anda tidak mungkin hamil kalau bercinta sambil berdiri.
Lainnya berujar, kemungkinan hamil akan berkurang bila hubungan seks jarang dilakukan. Kesimpulannya, tidaklah benar semua teori yang mengajarkan bahwa posisi bercinta menentukan kehamilan, atau jika suksesnya pembuahan tergantung dari seberapa sering hubungan intim dilakukan.

Mitos 9: Tidak mencapai klimaks berarti tidak mungkin hamil.

Banyak wanita percaya selama mereka tidak mencapai klimaks (orgasme), maka mereka takkan mungkin hamil. Sayangnya kenikmatan seksual tak ada kaitannya dengan hal ini. Meski begitu hingga kini masih terjadi perdebatan soal benar-tidaknya teori yang mengatakan orgasme mampu meningkatkan kesuburan pada mereka yang berusaha hamil.

Mitos 10: Perlindungannya lebih maksimal jika kondomnya semakin ‘ketat’.

Jika dipikir-pikir, mitos kondom ini ada benarnya juga. Jika kondomnya ketat maka risikonya terlepas sangat kecil, serta tak ada kesempatan bagi sperma untuk terselip keluar. Sayangnya bila kondomnya terlalu kecil atau ketat, risiko robek sewaktu digunakan pun semakin tinggi.
Faktanya, penggunaan kondom dengan ukuran tepat itu penting, dan harus ada sedikit ruang tersisa (khususnya di bagian ujung) untuk menampung sperma hasil ejakulasi.
Mitos lain berkata menggunakan 2 kondom sekaligus lebih baik ketimbang 1 saja. Tentu saja ini keliru karena kedua bahannya bisa saling bergesekan satu dengan lain sehingga risiko pengaman koyak jadi lebih tinggi.
Dengan demikian, sudah jelas bukan soal benar-tidaknya berbagai mitos kontrasepsi di atas. Jadi ketimbang percaya teori yang tidak teruji kebenarannya, lebih baik pilih kontrasepsi sesuai anjuran dokter saja kalau ingin mencegah kehamilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *