Kenali Gejala HIV pada Wanita dan Penanganannya

Gejala HIV pada wanita seringkali diabaikan, apalagi kalau penderitanya tidak merasa dirinya berisiko terinfeksi virus tersebut. Parahnya lagi, ada juga yang sudah terinfeksi, namun tidak mengalami gejala HIV pada wanita sama sekali. Jika ini sampai terjadi, maka penanganannya otomatis jadi terlambat.
gejala hiv pada wanita
SALAH satu faktor yang membuat gejala HIV pada wanita disepelekan adalah karena beberapa memang mirip dengan ‘penyakit’ biasa saja.

Gejala HIV pada wanita

Gejala HIV pada wanita umumnya meliputi:

  • Infeksi ragi/jamur yang kambuh-kambuhan
  • Radang panggul (PID)
  • Tumbuhnya sel prakanker di jaringan serviks (displasia)
  • Tumbuh luka bisul pada alat kelamin
  • Kutil kelamin

Selain itu, perempuan yang menderita penyakit herpes oral akut juga berisiko terinfeksi virus HIV. Namun seperti disebutkan di awal tadi, tak semua penderitanya mengalami rangkaian gejala tersebut.
Tapi bila mengalaminya, jangan remehkan hal itu. Apalagi beberapa gejala HIV seperti infeksi vagina, hasil pap smear abnormal, atau radang panggul, ternyata sukar disembuhkan. Yang perlu diingat adalah beberapa minggu setelah terinfeksi, kebanyakan mengalami gejala mirip flu. Walau ada juga yang baru mengalami gejala awal HIV pada kulit beberapa tahun kemudian.
Ketika infeksinya bertambah parah, maka akan muncul gejala lain seperti:

  • Membengkaknya kelenjar limfa di leher, ketiak, atau selangkangan
  • Demam yang kambuh-kambuhan, termasuk berkeringat saat malam
  • Berat badan turun drastis tanpa alasan jelas
  • Terus-menerus merasa lelah
  • Diare
  • Nafsu makan menurun
  • Muncul gejala awal HIV pada kulit yakni bercak putih atau luka abnormal pada mulut

Cara menurunkan risiko terinfeksi HIV

Pertama-tama, ketahuilah bahwa virus ini menyebar melalui cairan tubuh, entah itu darah, air liur, atau cairan yang keluar dari kemaluan. Oleh sebab itu, HIV cenderung lebih mudah menginfeksi perempuan yang:

  • Menggunakan jarum suntik non-steril/bekas, entah untuk menyuntik obat, tato alis, sulam bibir, dll
  • Berhubungan seks tanpa pengaman dengan seseorang yang sudah terinfeksi

Karena itu, para ahli menyimpulkan cara terbaik agar tidak terinfeksi HIV adalah dengan tidak melakukan seks bebas, menjauhi obat terlarang, dan menggunakan jarum suntik steril. Saat berhubungan intim yang melibatkan intercourse, pastikan pasangan tidak terinfeksi, atau gunakan saja pengaman seperti kondom atau dental dams.

Penanganan infeksi HIV

Hingga kini, masih belum ada obat untuk menyembuhkan infeksi HIV-AIDS. Jadi penanganan terbaik yang dapat dilakukan dokter saat ini adalah dengan terapi antiretroviral (ART) plus obat-obatan lain seperti obat antijamur yang diminum untuk mengatasi infeksi ragi.
Selain itu, penderita HIV positif juga perlu diperiksa soal ada-tidaknya kemungkinan ia menderita radang panggul atau infeksi penyakit menular seksual lainnya. Fakta juga menunjukkan bahwa kanker serviks lebih berisiko diderita dan berkembang cepat dalam tubuh perempuan positif HIV. Untuk ini, penderita HIV harus melakukan pap-smear 2 kali dalam setahun agar deteksi dan penanganan kanker dapat dilakukan segera.
Belakangan para ahli sedang menyelidiki tentang metode pencegahan infeksi HIV  pada perempuan dengan menciptakan semacam krim atau gel pelindung yang diaplikasikan sebelum intercourse. Akan tetapi hingga kini belum ada kesimpulan bahwa cara ini efektif untuk mencegah penyebaran HIV dan penyakit menular seksual lainnya.

Soal penyebaran HIV

Terkait penyebaran HIV, berikut beberapa pertanyaan yang biasanya muncul:

1. Apakah HIV dapat menular ke janin juga?

Kebanyakan bayi yang terlahir dari ibu positif HIV terluput dari virus ini. Akan tetapi 1 dari 4 bayi positif terinfeksi, entah itu sebelum, selama proses kelahiran, atau ketika diberi ASI. Hingga kini para ahli belum tahu persis kapan waktu tepatnya virus tersebut menginfeksi bayi.
Yang jelas, penyebaran HIV ke janin juga dipengaruhi dari kondisi kesehatan sang ibu selama kehamilan atau setelah melahirkan, mengingat jumlah virus pada tahap awal AIDS lebih banyak daripada fase berikutnya. Untuk mengurangi risiko penularan ke janin, dokter akan memberikan obat Retrovir (AZT) pada sang ibu.

2. Bisakah HIV ditularkan melalui seks oral?

Tentu saja. Sekali lagi cairan tubuh merupakan media penularan HIV, dan itu termasuk air liur, darah, serta cairan sperma/vagina. Oleh karenanya, virus ini dapat menyebar melalui hubungan intim, entah itu secara oral, vaginal, maupun anal.
Perlu diketahui juga bahwa melakukan seks oral tanpa kondom lateks dapat meningkatkan infeksi HIV. Alasannya karena cairan pra-ejakulasi bisa jadi sudah mengandung HIV dan dapat diserap masuk oleh selaput lendir dalam mulut. Maka dari itu, disarankan agar seks oral dilakukan dengan pengaman kondom lateks atau dental dams guna menurunkan risiko penyebaran virus.

Agar hasil tes HIV akurat

Agar hasilnya akurat, CDC (badan kesehatan di AS) merekomendasikan tes HIV dilakukan setelah 6 minggu atau hingga 6 bulan sejak seks (tanpa pengaman) dilakukan. Jika tes dilakukan terlalu dini, maka hasilnya bisa tidak akurat karena pada saat itu, tubuh belum menciptakan antibodi yang cukup untuk melawan virusnya. Proses ini biasa disebut serokonversi.
Hal lain yang harus dipahami adalah ternyata ada 2 jenis tes HIV: tes reaktif (contoh Elisa Test) dan tes konfirmatori (Western Blot).

Tes reaktif

Bertujuan mencari tahu ada-tidaknya antibodi dalam darah. Akan tetapi, hasil tes ini bisa saja positif palsu, terutama untuk wanita yang mendapatkan/mengalami:

  • Gagal ginjal
  • Kehamilan multiple
  • Vaksin influensa
  • Gamma globulin (imunoglobulin)

Ketika hasil tes reaktif negatif, itu artinya tak ada antibodi HIV yang berhasil terdeteksi.

Tes konfirmatori

Bertujuan untuk mengetahui apakah seseorang mememang terinfeksi HIV atau tidak. Hasil tes yang positif menandakan kalau seseorang sudah terinfeksi HIV dan berpotensi menularkannya pada orang lain. Tapi hasil tes positif bukan berarti bahwa ia pasti (akan) mengidap AIDS, walau hasil riset menunjukkan kecenderungannya nanti memang demikian.

Ini dia risiko HIV bagi kaum lesbian

HIV adalah virus yang tidak memandang bulu, jenis kelamin, ras, ataupun kelas sosial. Oleh karenanya, pasangan sesama jenispun tetap berisiko terinfeksi. Dalam hal ini, HIV tetap bisa ditularkan melalui darah atau cairan vagina yang mengenai organ keintiman, mulut, atau luka terbuka di bagian tubuh mana saja.
Infeksi HIV dan penyakit seksual lain juga dapat terjadi melalui alat yang dimasukkan ke dalam organ keintiman, yang sebelumnya sudah terpapar  virus HIV. Terakhir, seks oral yang dilakukan para lesbian juga tetap bisa menyebarkan infeksi HIV. Sekali lagi, untuk mencegah penularan, penggunaan dentam dam, sarung tangan lateks, atau kondom tetap diperlukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *