Miss V Kering Pertanda Tidak Subur?

Kondisi Miss V kering saat berhubungan sebaiknya tidak disepelekan karena ini dapat memengaruhi sukses-tidaknya kehamilan. Lantas bagaimana supaya Miss V tidak kering?
miss v kering saat berhubungan
CAIRAN vagina merupakan kunci utama keberhasilan pembuahan. Menurut ahli, cairan vagina yang termasuk kategori subur memiliki tekstur mirip putih telur karena bisa membantu sperma bertahan dan berenang mendekati sel telur. Saking pentingnya cairan serviks bagi pembuahan, sampai-sampai beberapa alat kontrasepsi menggunakan prinsip ‘mengeringkan cairan Miss V’ untuk mencegah kehamilan.

Penyebab Miss V kering

Lantas untuk pasangan yang mendambakan anak, bagaimana caranya supaya Miss V tidak kering? Untuk tahu solusinya, tentunya kita harus menyelidiki lebih dulu apa penyebab Miss V kering saat berhubungan.

1. Efek samping obat

Beberapa jenis obat memang bisa membuat organ keintiman kering atau menurunkan kualitas cairan vagina. Obat yang dimaksud antara lain:

  • Antihistamin atau obat alergi
  • Obat batuk (supresan)
  • Obat pilek dan sinus, terutama yang mengandung obat batuk (supresan) atau antihistamin
  • Jenis obat tidur tertentu
  • Atropin (anticholinergic atau antidot)
  • Propantelin (antispasmodik)
  • Jenis obat antidepresan atau epilepsi tertentu

Jika Anda sedang menggunakan salah satu dari obat yang disebutkan barusan, segera konsultasikan alternatif lainnya dengan dokter. Tapi bila tak ada alternatif obat lain yang dapat dipilih, maka tanyakan pada dokter tentang cara meminimalisir efek sampingnya. Yang pasti, hindari mengganti atau menghentikan obat tanpa terlebih dulu berkonsultasi dengan dokter.

2. Clomid (obat kesuburan)

Ironisnya, Clomid yang notabene merupakan obat kesuburan ternyata malah membuat organ keintiman kering. Efek samping ini muncul khususnya jika Clomid dikonsumsi dalam dosis tinggi. Jadi jika obat kesuburan yang dikonsumsi malah membuat vagina kering, segera bicarakan dengan dokter. Beliau mungkin akan meresepkan obat estrogen untuk memutarbalikkan efek samping tersebut.
Bila kehamilan tak terjadi setelah beberapa kali siklus haid, dokter mungkin juga akan menyarankan obat kesuburan lain atau perawatan IUI (mengombinasikan Clomid dengan obat lain).

3. Usia

Seiring bertambahnya usia, jumlah dan kualitas cairan serviks memang kian berkurang. Inilah alasan utama mengapa tingkat kesuburan juga menurun ketika seorang perempuan bertambah umurnya.
Ketika masih usia 20an, cairan vagina subur bisa keluar hingga 5 hari berturut-turut. Tentunya semakin sering cairan ‘subur’ dihasilkan, maka kian besar pula kesempatan hamil.
Namun begitu umur menginjak kepala 3 dan 4, mungkin hanya 1-2 hari saja dimana cairan tersebut dihasilkan (meski kemungkinan hamil dalam hal ini juga masih ada). Seringkali, cairan yang keluarpun lebih encer dan tidak seelastis putih telur.
Jadi bila usia sudah di atas 35 tahun, dan Anda telah berusaha punya anak selama 6 bulan tapi tak berhasil juga, maka segera temui dokter untuk melakukan pemeriksaan kesuburan.
Baca juga: Hamil setelah Usia 35 Tahun, Amankah?

4. Douching

Douching (aksi menyemprotkan air ke dalam organ keintiman) dapat ‘menghilangkan’ cairan Miss V yang berperan penting dalam kehamilan. Lebih dari itu, douching juga mampu mengikis bakteri baik sehingga risiko infeksi vagina meningkat (ditandai dengan aroma tak sedap).
Lebih baik hindari penggunaan douching atau semua produk yang bercirikan “feminine deodorant” bahkan jika Anda tidak sedang berusaha hamil.

5. Terlalu kurus

Estrogen merupakan hormon yang bertugas meningkatkan jumlah cairan Miss V. Namun kadar hormon ini umumnya rendah pada perempuan kurus atau atlet (yang berlebihan saat latihan/olahraga). Kondisi ini tak hanya berpengaruh pada kemampuan punya anak, tapi juga berovulasi.

6. Ketidakseimbangan hormon atau tidak berovulasi

Sudah jelas bahwa ketidakseimbangan hormon dapat mengurangi kadar cairan organ keintiman. Seorang perempuan yang tidak ovulasi biasanya juga tak menghasilkan cairan vagina ‘subur’.
Memang ada kemungkinan cairan vagina tetap dihasilkan namun tubuh tak berovulasi, tergantung dari penyebabnya. Bila ini terjadi, segera hubungi dokter.

7. Infeksi atau pernah menjalani operasi serviks

Penyebab lain mengapa cairan Miss V sedikit saja adalah infeksi, misalnya karena penyakit menular seksual (PMS). PMS ini juga bisa memicu gangguan kesuburan lain, termasuk infeksi rahim dan saluran tuba falopi.
Di samping itu, cedera atau pernah menjalani operasi serviks juga mampu memengaruhi produksi cairan Miss V. Perempuan yang pernah menjalani konisasi atau biopsi serviks mungkin mendapati cairan vaginanya tak sebanyak dulu.

Cara mengatasi Miss V kering

Perawatan untuk atasi Miss V kering tentu tergantung dari apa yang menyebabkannya, misalnya dengan:

  • Mengganti atau menghentikan obat yang menyebabkannya. Dokter mungkin menyarankan obat batuk ekspektoran (ketimbang supresan) yang mengandung bahan aktif guaifenesin. Selain membantu mengurangi sekresi dari paru-paru ketika batuk,  guaifenesin juga meningkatkan sekresi cairan serviks.
  • Merawat infeksi vagina.
  • Menjalani perawatan hormon.
  • Minum suplemen estrogen (Estrace atau Premarin) yang biasanya dikombinasikan dengan obat kesuburan,  tujuannya untuk menstimulasi terjadinya ovulasi.
  • Perawatan IUI, yaitu mengambil sperma dan memindahkannya ke rahim langsung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *