Sifilis

Pengobatan Sifilis

Pengobatan penyakit menular seksual, pada hal ini khususnya sifilis, merupakan hal yang sedikit kompleks. Apabila diagnosa pasti sudah bisa didapatkan sedari dini dan pengobatan dengan antibiotik dilakukan dengan benar, maka sifilis bisa disembuhkan hanya dengan terapi antibiotik tunggal dengan penisilin.

Pengobatan sifilis lebih mudah dilakukan ketika penyakit menular seksual ini masih berada pada tahap primer dan sekunder. Biasanya dokter akan menggunakan antibiotik jenis penisilin.

Kalau waktu infeksi masih di bawah satu tahun, maka suntikan dosis tunggal penisilin biasanya sudah mampu menghentikan infeksi penyakitnya. Akan tetapi, kalau infeksi sifilis sudah berlangsung lama lebih dari itu, maka dosisnya mungkin perlu ditambahkan.

Biasanya, akan dilakukan suntikan antibiotik ulangan pada minggu berikutnya selama tiga minggu berturut-turut. Pada kebanyakan kasus, pengobatan penyakit menular seksual ini membutuhkan waktu 2 minggu untuk sembuh, tapi bisa juga lebih lama dari itu. Hal ini tergantung dari tingkat keparahan dan penyebaran infeksi sifilis itu sendiri.

Dan untuk mereka yang alergi terhadap penisilin, maka akan diberikan pengobatan antibiotik jenis lain secara oral. Pengobatan ini bisa berlangsung antara 2 – 4 minggu tergantung dari durasi penderita terinfeksi oleh penyakit sifilis tersebut.

Untuk mereka yang mengalami neurosifilis (komplikasi infeksi sifilis pada sistem syaraf), maka dosis harian penisilin biasanya disuntikkan melalui pembuluh darah. Hal ini dikarenakan obat penisilin tidak dapat menembus ke dalam sistem syaraf pusat dengan baik, sehingga pengobatan haruslah diberikan dalam dosis yang besar dan dalam jangka waktu paling sedikit 10 hari. Cara pengobatan ini mengharuskan pasien untuk opname di rumah sakit.

Yang disayangkan adalah, ketika penderita sifilis sudah mencapai gejala tersier, maka tak banyak hal yang bisa dilakukan lagi. Bakteri penyebab sifilis memang dapat dimusnahkan dengan terapi antibiotik pada tahap ini, namun pengobatan yang diberikan biasanya hanyalah sejauh untuk menghentikan infeksi, meredakan rasa tidak nyaman atau sakit yang timbul. Segala kerusakan yang sudah terjadi disebabkan oleh siflis tersier tidak dapat diperbaiki lagi.

Untuk ibu hamil yang positif menderita sifilis, maka pengobatan akan ditempuh melalui antibiotik juga. Untungnya antibiotik itu sendiri tidak memiliki dampak pada janin dalam kandungan.

Akan tetapi, pada awal pengobatan, pasien mungkin akan mengalami apa yang disebut sebagai reaksi Jarisch-Herxherimer. Reaksi ini diakibatkan oleh sitokin yang dilepaskan oleh sistem imun tubuh sebagai respon dari lipoprotein yang dikeluarkan akibat dari peluruhan bakteri sifilis. Gejalanya biasanya berupa demam, menggigil, mual, hingga sakit kepala. Reaksi ini dapat timbul sejam setelah diberikan pengobatan dan dapat bertahan hingga 24 jam berikutnya. Namun, reaksi ini biasanya akan hilang dengan sendirinya.