Trauma Keguguran Bisa Bikin Hubungan Pasutri Jadi Renggang

Keguguran adalah peristiwa paling tidak mengenakkan yang mungkin dialami seorang wanita sepanjang hidupnya. Wajar jika setelah peristiwa ini sang calon ibu merasa sedih karena keguguran. Pemulihan pasca keguguran bisa berlangsung cepat atau lambat tergantung bagaimana Anda dan pasangan mengatasinya. Yang terpenting, jangan sampai trauma dan kedukaan karena keguguran mengganggu keharmonisan rumah tangga. Beginilah cara mengatasinya dengan tepat.
sedih karena keguguran
KEHAMILAN pertama lazimnya sangat rentan, terutama jika Anda adalah wanita super aktif. Pada tiga bulan kehamilan pertama, beberapa wanita bahkan mengalami keguguran dan ini bukanlah hal mudah untuk dilalui.
Sedih karena keguguran adalah hal wajar yang dialami calon ibu pasca mengalaminya. Pada waktu-waktu ini, biasanya Anda akan berkhayal seandainya dapat memutar waktu. Hal ini masih wajar karena Anda baru saja tertimpa musibah.
Namun, kedukaan atau sedih karena keguguran jadi tidak wajar dan justru membahayakan pernikahan ketika Anda mulai menyalahkan diri sendiri atau bahkan pasangan, apalagi bila hal ini berlangsung selama berbulan-bulan. Dari yang tadinya mengayomi dan berusaha menghibur, pasangan bisa jadi berbalik antipati pada Anda. Efeknya, hubungan pernikahan pun jadi renggang.
Supaya hal ini tak terjadi, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan selama masa pemulihan pasca keguguran. Dikutip dari yourtango.com, inilah beberapa di antaranya.

Pulihkan Perasaan Bersama-Sama.

Ingat. Anda dan pasangan adalah rekan satu tim. Bukan hanya Anda yang berduka karena musibah ini, ia pun demikian. Maka, berkomitmenlah untuk menyembuhkan perasaan duka bersama-sama. Lakukan yang perlu dilakukan.
Liburan, menyibukkan diri dengan pekerjaan, atau berkutat dengan hobi sah-sah saja dilakukan. Ketika Anda dan pasangan sudah merasa lebih baik, silakan kembali mencoba untuk memiliki buah hati.

Menangislah Jika Memang Itu yang Dibutuhkan

Bisa jadi Anda bukanlah tipe yang suka menangis. Namun, kali ini, jika merasa butuh menangis, menangislah. Tak perlu ditahan-tahan. Menangis bukan berarti Anda lemah.
Menangis justru menunjukkan bahwa Anda percaya pada pasangan hingga berani menunjukkan sisi diri yang paling rentan. Lagipula, menangis akan meringankan emosi yang membebani pasca keguguran.

Jangan Beralih ke Hal-Hal yang Tidak Menyehatkan

Beberapa orang mungkin dapat reda stresnya ketika merokok atau minum alkohol. Ini sangat tidak perlu Anda lakukan. Alih-alih menyembuhkan, konsumsi hal-hal ini justru dapat membahayakan kesehatan diri dan kandungan. Sebaliknya, carilah bantuan profesional untuk pemulihan pasca keguguran.
Baca juga: Pahami Proses yang Terjadi saat Keguguran

Bicarakan dengan Pasangan

Keguguran memang berat. Namun, jangan malah menutup diri. Bicara memang tidak mudah dan mungkin saja membangkitkan memori kelam, tetapi Anda dan pasangan berhak untuk saling berbagi keluh kesah dan kesedihan.

Tarik Nafas

Tarik nafas di sini tidak bermakna secara literal karena kita sama-sama tahu bahwa kedukaan pasca keguguran tidak akan hilang hanya dalam satu dua helaan nafas. Ambillah jeda untuk istirahat dari pekerjaan. Anda butuh liburan atau sekadar berdiam di rumah untuk mengembalikan mood, energi, dan stamina.

Jangan Pikirkan Perkataan Orang

Kadang, musibah seperti ini bisa jadi kian menyulitkan ketika lingkungan tidak suportif. Alih-alih menguatkan, ucapan seperti,”Lagian sih terlalu sibuk,” atau, “Makanya perempuan nggak perlu kerja,” justru akan semakin menyakitkan hati.
Oleh karena itu, ucapan seperti ini tidak perlu Anda gubris. Dan bila Anda belum siap untuk bertemu dengan orang lain pasca keguguran, tak perlu kok memaksa diri untuk bersosialisasi.

Terima Kondisi Hubungan Anda Bagaimanapun Itu

Bisa jadi pasangan tidak mendukung Anda seperti yang diharapkan. Namun, bukan berarti ini adalah persetujuan untuk bercerai. Sebaliknya, pahami bahwa Anda dan dia adalah dua orang yang memandang masalah besar dengan cara berbeda. Bila tidak sreg, komunikasikanlah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *